Wajak – Tulungagung- Jawa Timur

Tabir Gelap Lokasi Penemuan Fosil “Homo Wajakensis”

 BEKAS lokasi penemuan fosil tengkorak “Homo Wajakensis” di Kabupaten Tulungagung, Jatim, hingga kini masih gelap. Banyak penduduk di desa sekitar Wajak, Kecamatan Boyolangu, tidak tahu tentang sejarah penemuan fosil purbakala itu.
 

Demikian pula orang-orang yang mendiami kawasan Tulungagung selatan. Padahal seabad lalu, daerah mereka menjadi pusat perhatian dunia dalam pengembangan ilmu paleontologi [ilmu tentang fosil]. Daerah berbatu gamping tersier itu pernah menjadi area perburuan ahli kepurbakalaan untuk mencari “missing link” [mata rantai yang hilang] asal-usul manusia.

 

Tidak hanya masyarakat awam yang tidak mengenali lokasi bekas penemuan fosil Homo Wajakensis. Para guru sejarah dan pejabat yang membidangi cagar budaya pun tidak bisa menunjukkan tempat salah satu fosil manusia purba itu ditemukan.

 

Uniknya, dalam manuskrip data Benda Cagar Budaya [BCB] yang disusun kantor Depdikbud Tulungagung ditulis, situs penemuan manusia purba terletak di Dukuh Nglempung, Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, sekitar delapan kilometer selatan Desa Wajak.

 

“Tempat penemuan fosil Homo Wajakensis memang perlu dibuat monumen,” demikian bunyi rekomendasi manuskrip data BCB kantor Depdikbud Tulungagung yang dibuat tahun 1995.

 

Kenyataan tersebut berbeda dengan nasib area ditemukannya Pithecantropus Erectus [manusia kera berdiri tegak] oleh ahli paleontologi Belanda, Eugene Dubois, di lembah sungai Bengawan Solo dekat Trinil, Oktober 1891.

 

Di lokasi bekas ditemukannya “Manusia Trinil” yang pernah menjadi perhatian dunia lebih seabad lalu itu hingga kini masih bisa disaksikan buktinya. Seabad silam, Dubois telah menancapkan prasasti di sebelah kanan Bengawan Solo bertuliskan “P.e.—175 M.ONO—1891/93″ yang menandakan arah geografis dan jarak prasasti dari titik ditemukannya Phitecanthropus.

 

Selain itu, dia juga meninggalkan foto-foto suasana Bengawan Solo, peta asli dan situs-situs ekskavasi fosil penemuannya tahun 1891-1893.

 

Dan pada November 1991, seabad peringatan penemuan Phitecantropus, telah diresmikan Museum Trinil atas bantuan lembaga Dubois oleh Gubernur Jatim saat itu, Soelarso.

 

Banyaknya bukti otentik mengenai tempat-tempat penggalian fosil di lembah Sungai Bengawan Solo yang ditinggalkan Dubois tampaknya merupakan kunci untuk merunut kembali lokasi penemuan “manusia purba dari Jawa” sebagai aset wisata budaya.

Perlu data baru

Hasrat untuk menyisir kembali tempat penemuan fosil tengkorak Homo Wajakensis bukannya tidak ada. Pemda Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Pariwisata yang dibentuk April 1998 sudah mulai berpikir menjadikan tempat tersebut aset wisata budaya.

 

Akan tetapi keterbatasan tenaga ahli sejarah, dana, dan tidak adanya bukti dan buku pendukung menyebabkan rencana tersebut tinggal angan-angan belaka.

 

Mengapa Dubois tidak meninggalkan bukti-bukti otentik berupa peta, foto, ataupun prasasti tempat ditemukannya Homo Wajakensis seperti yang dia lakukan untuk hal yang sama saat penemuan Pithecanthropus?

 

Apakah daerah Wajak yang memberinya temuan fosil Homo Wajakensis tidak begitu penting bagi kontribusi risetnya, sehingga Dubois lupa mencatat dalam buku hariannya?

 

“Kami memang kesulitan untuk mendapatkan bukti-buktinya, sehingga tempat itu belum masuk dalam peta wisata Tulungagung,” ujar Kepala TU Dinas Pariwisata Tulungagung Wahyuadji Gunawan.

 

Dia mengaku, rencana menguak kembali tempat ditemukan Homo Wajakensis baru muncul pada Oktober 1998 setelah Dinas pariwisata setempat menerima berita rencana kedatangan turis Belanda yang disampaikan seorang pemandu wisata dari sebuah agen perjalanan wisata.

 

Orang Belanda tersebut, lanjut dia, mengaku keturunan Dubois dan ingin napak tilas ke tempat-tempat tersebut.

Jejak Dubois

Fakta bahwa di sekitar Desa Wajak memang pernah ditemukan Homo Wajakensis sebenarnya bisa dilacak dari buku-buku mengenai perjalanan riset arkelogi dan antropologi Dubois.

 

Daerah Wajak sendiri kini merupakan sebuah desa di Kecamatan Boyolangu. Padahal pada prasasti peninggalan Belanda di lereng bukit Nglempung, Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat, yang berangka tahun 1850 tertulis bahwa kawasan tersebut masih disebut Wajak.

 

Dalam buku Pithecanthropus karya Richard E Leakey dan Jan kkerveer, ditulis, di sekitar Desa Wajak ditemukan fosil tengkorak manusia oleh seorang insinyur tambang batu gamping berkebangsaan Belanda, BD van Rietschoten, 24 Oktober 1888.

 

Fosil tengkorak yang dianggap ganjil itu kemudian diserahkan kepada CP Sluiter, kurator dari Koninklijke Natuurkundige Vereeniging [Perkumpulan Ahli Ilmu Alam] di Batavia saat itu.

 

Hampir bersaman dengan waktu itu, Dubois mendarat di Jawa untuk melanjutkan riset arkeologinya yang tidak memuaskan di Sumatra. Sluiter menyerahkan fosil tengkorak Wajak kepada Dubois.

 

Bagi Dubois, fosil temuan Rietschoten membuka harapan baru untuk menemukan “missing link” asal-usul manusia. Ini sesuai teori ahli geologi Verbeek yang sepakat bahwa pegunungan batu gamping tersier di Jawa sangat menjanjikan bagi riset Dubois.

 

Dubois akhirnya tinggal di Tulungagung, yang saat itu masih merupakan kota kecil bagian Kediri, selama lima tahun. Dia menyusur kembali tempat Rietschoten menemukan fosil tengkorak manusia, yakni di cekungan bebatuan sekitar Wajak.

 

Di sekitar tempat itu ia selain mendapatkan sisa fosil reptil dan mamalia, juga menemukan fosil tengkorak manusia meski tidak seutuh temuan Rietschoten. Fosil temuannya sendiri dia sebut Homo Wajakensis sebagai salah satu ras manusia “recent”.

 

Sesudah penemuan perdana fosil tengkorak manusia tersebut, Dubois makin berambisi melanjutkan ekspedisinya. Dia berpindah ke berbagai tempat di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

 

Akhirnya dia memusatkan situs risetnya di lembah Bengawan Solo dekat Trinil yang memberikan begitu banyak temuan fosil. Di tempat baru itulah Dubois menemukan fosil Pithecanthropus Erectus yang menggemparkan dunia dan mengantarkan dirinya sebagai ahli paleoantropologi terkemuka.

 

Yang menarik, buku tersebut menjelaskan selama di Tulungagung Dubois sering ke perkebunan milik orang Skotlandia bernama Boyd di kaki gunung Wilis, yang sekarang merupakan perkebunan kopi Penampian Kecamatan Sendang.

 

Satu-satunya bukti bisu yang ada dalam buku tersebut adalah foto fosil-fosil yang dibiarkan berserakan di sebuah balai-balai rumah adat Jawa yang ditempati Dubois selama di Tulungagung.

 

Sekarang, ke mana harus bertanya untuk melacak situs penemuan Homo Wajakensis atau tempat-tempat yang pernah digunakan Dubois selama riset arkeologi dan paleoantropolgi di Tulungagung?

 

Lima puluh delapan tahun silam Dubois meninggalkan Indonesia. Kuburannya yang terletak di perkebunan De Bedelaer miliknya di kota Venlo hanya bisa diam membisu. Hanya batu nisannya yang bertahtakan fosil tempurung kepala dan dua tulang paha yang disilangkan dari Phithecanthropus yang berbicara bahwa dia adalah penemu fosil manusia purba dari Jawa tersebut.

 

Bapak paleoantropologi dan satu dari delapan kolektor terbesar di jagat itu kini cuma bisa berbicara kepada dunia lewat warisan monumentalnya berupa lebih 40 ribu macam benda yang tersimpan di Museum Nasional Sejarah Alam di Leiden Belanda.

 

Kini tinggal, apakah ada niat dan usaha untuk mewarisi dan menjaga peninggalannya, termasuk situs-situs ekskavasi fosilnya di Indonesia, seperti di Trinil dan Wajak. muhammad rifai/anspek.

****

Mencari jejak Manusia Wajak…

Austromelanesoid – Mongoloid
Mungkin Anda bertanya, nama makhluk apa lagi ini? Apakah ini nenek moyang kita? Jawabnya bukan! Sabar. Dari hasil penemuan dan penelitian di pegunungan Sewu, bagian tengah Jawa Tengah-Jawa Timur, para ahli menemukan kohabitasi, bercampurnya dua suku bangsa di suatu wilayah, yaitu ras Australo-melanesid dengan ras Mongoloid dalam waktu yang hampir bersamaan. Kohabitasi dua ras tersebut jauh sebelum datangnya para penutur Austronesia yang berciri ras Mongoloid.

(1) Dalam situs purbakala di kawasan Jateng-Jatim tersebut ditemukan kerangka Austromelanesoid yang dikubur dalam posisi terlipat. Di tempat yang sama juga ditemukan kerangka Mongoloid dikubur dalam posisi terbujur.

(2) Penemuan kerangka manusia purba di daerah Wajak, dekat Tulungagung, Jawa Timur, menunjukkan ciri-ciri ras Mongoloid pada bagian wajahnya, sekaligus menunjukkan ciri-ciri ras Austromelanesid pada bentuk umum tengkoraknya. Dari bukti tersebut dapat disimpulkan, bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah
1.percampuran antara dua ras Austromelanesid dan Mongoloid yang mendiami bumi nusantara ini, gelombang demi gelombang, dalam waktu berabad-abad, kemudian bercampur dengan
2.rumpun Asia dari India,
3.bercampur lagi dengan rumpun Aria dari India, dan
4.bercampur lagi dengan bangsa Semit dari Eropa, di masa-masa modern sesudahnya.Dari bukti-bukti arkeologis tersebut di atas maka orang akan sulit jika menetapkan mana sebenarnya yang disebut bangsa Indonesia yang asli. Apalagi sekarang! Zaman globalisasi. Kini dunia rasanya sudah menjadi satu. Kita sekarang sudah menjadi satu warga negara, warga negara dunia. Kemanusiaan yang adil dan beradab – seperti yang diamanatkan oleh Sila ke-dua Pancasila — seharusnya sudah menjadi way of life semua bangsa di dunia. Apapun ideologinya, apapun filosofinya, apapun agamanya. Mankind is one!

2 Responses to Wajak – Tulungagung- Jawa Timur

  1. Manusia pertama yaitu Nabi Adam dan Ibu Hawa.

  2. tolong berikan foto manusia purba yang lainnya ya …,,!!??
    q mhon qw ingin tau banget dech tentang manusia purba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s